LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
MENINGKATKAN MINAT BELAJAR AL QUR’AN HADITS MELALUI METODE PROBLEM SOLVING PEMECAHAN
MASALAH PADA KELAS X MADRASAH HIDAYATUL MUBTADIIN WEDI
OLEH:
Dra. KHANIFATUL QOERIYAH, M.Pd.I
YAYASAN PONDOK PESANTREN AL KHOIRIYAH
MADRASAH ALIYAH AL KHOIRIYAH BALEN
JL. PUK NO. 529 GANG III BALEN
BOJONEGORO
LEMBAR PENGESAHAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
JUDUL PENELITIAN
MENINGKATKAN MINAT BELAJAR AL QUR’AN HADITS MELALUI METODE PROBLEM SOLVING PEMECAHAN
MASALAH PADA KELAS X MADRASAH ALIYAH BALEN
IDENTITAS PENELITI
Nama :
Dra. Khanifatul Qoeriyah, M.Pd.I
NIP :
19630503 200604 2006
Gol/ Ruang : Penata Muda/ III
Unit Kerja :
Madrasah Aliyah Al Khoiriyah Balen.
Kepala Perpustakaan Penyusun,
Dra.
Khanifatul Qoeriyah, MP.d.I Dra.
Khanifatul Qoeriyah, MP.d.I
NIP.
19630503 200604 2006
NIP. 19630503 200604 2006
Mengesahkan,
Kepala MA Al Khoiriyah
Kec. Balen Kab. Bojonegoro
Drs. Zaenuri, M.Pd.I
NIP. 19630312 200604 1012
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis
panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas Rahmat, Taufik, dan Hidayah-Nya yang
memungkinkan penulisdapat menyelesaikan Laporan penelitian Tindakan kelas (PTK)
yang sangat sederhana ini,namun sangat dalam maknanya bagi penulis yang berjudul
“MENINGKATKAN MINAT BELAJAR AL QUR’AN HADITS
MELALUI METODE PROBLEM SOLVING PEMECAHAN MASALAH PADA KELAS X MADRASAH
ALIYAH AL KHOIRIYAH BALEN”.
Salam dan shalawat senantiasa tercurah atas
Rasulullah SAW. Beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah mengantarkan
petunjuk jalan kebenaran.
Berkat
bimbingan dan petunjuk dari berbagai pihak maka laporan ini dapat
terselesaikan. Untuk itu perkenankanlah penulis menyampaikan terima kasih dan
penghargaan kepada:
1. Bapak
Drs.Zaenuri, M.Pd.I, selaku Kepala MA Al Khoiriyah Balen yang telah memberikan
kemudahan dan fasilitas selama mengadakan penelitian.
2. Semua
pihak yang telah membantu penulis selama penulisan laporan yang tidak bisa
penulis sebutkan seluruhnya.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih terdapat banyak kekurangan.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak. Penulis juga
berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Bojonegoro, 10
September 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menuntut ilmu bukanlah suatu hal yang asing bagi kita, sejak
lahir ketika berumur 0 tahun sampai saat ini kita masih terus menimbah dan
menggali dari semua sumber ilmu itu berada, kendatipun untuk mendapatkan ilmu
itu tidak semudah yang kita banyangkan, ketika kita terlahir kedunia jangankan
ilmu, selembar benangpun untuk digunakan sebagai penahan hawa dingin tidak kita
miliki. Sejalan dengan perputaran waktu pengetahuan kita mulai terisi dengan
ilmu-ilmu baru dan keingin tahuan kita terus meningkat dan kehausan akan ilmu
menjadikan kita terus bergerak dan mencari demi mendapatkan ilmu yang
diharapkan baik secara formal maupun non formal.
Dalam pendidikan formal mualai dari TK, SD, SMP saat
ini tidak terdapat masalah yang dalam menempuh bangku pendidikan, disamping
letak dan kondisi sekolah-sekolah tersebut cukup mendukung pemeringtah juga
telah membebaskan anggaran sekolah kepada setiap siswanya. Yang menjadi kendala
adalah kelanjutan menempuh sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Hal
inilah yang menjadi bahan pertanyaan bagi seorang anak yang baru menyelesaikan
studinya di bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. “Kemanakah sekarang aku
harus lanjutkan pendidikan?”, Sekolah Menengah Umum (SMU) cukup jauh dari
tempat tinggal, belum lagi persiapan dana untuk sekolah cukup berat bagi orang
tua. Hal-hal semacam inilah yang kadang dijadikan alternatif seorang anak untuk
mencari sekolah yang dapat di jangkau oleh ekonomi keluarga.
Dalam proses pendidikan di Sekolah Madrasah tentunya banyak
masalah yang dapat terjadi, sulitnya menyampaikan pesan pendidikan kepada siswa
di kelas merupakan tantang bagi semua guru, begitupula siswa dalam menyerap
ilmu pengetahuan dari guru haruslah bekerja keras dan bersungguh-sungguh
dalam menuntutnya.
Penggunaan model pembelajaran yang tepat didalam proses
pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan selalu menjadi harapan
para guru untuk mencapai keberhasilannya dalam melaksanakan tugasnya didalam
pembelajaran. Dapat dikatakan Guru Bidang Studi Al-Qur’an Hadis Kelas X MA Al
Khoiriyah Balenpada suatu proses pembelajaran menggunakan media belajar serta
metode pembelajaran dalam membantu proses pembelajaran.
Permasalahan yang terjadi dikelas X MA Al Khoiriyah Balen
adalah kurangnya pemahaman siswa tentang mata pelajaran Al-Qur’an Hadis
khususnya pada materi isi pokok ajaran Al-Qur’an. Hal ini terbukti bila
diadakan ulangan harian siswa tentang materi isi pokok ajaran Al-Qur’an lebih
rendah dari pada pokok bahasan lain pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadis.
Berangkat dari niat yang ikhlas penulis hendak melakukan
penelitian dan bentuk Penelitian Tindakan Kelas guna mengetahui sejauhmana
pemahaman belajar siswa terhadap mata pelajaran Al-qur’an Hadis di Kelas X
Madrasah Aliyah Al Khoiriyah Balen.
Yang melatar belakangi penelitian ini adalah berangkat dari
hasil wawancara dengan guru Bidang Studi Al-Quran Hadis di Madrasah Aliyah Al
Khoiriyah Balen dan observasi pada saat pembelajaran Al-Qur’an Hadis. Beliau
mengungkapkan bahwa hasil belajar siswa kelas X khususnya pada mata pelajaran
Al-Qur’an Hadis kurang memuaskan, hal ini ditunjukkan dengan nilai yang didapat
setiap diadakan ulangan banyak yang mendapat nilai dibawah kriteria ketuntasan
minimal yang ditentukan oleh sekolah. Dilanjutkan dengan melakukan observasi
pembelajaran, terlihat bahwa siswa kurang memperhatikan pelajaran yang
disampaikan guru, mereka lebih mementingkan hal lain dari pada belajar dan
ketika dilakukan pos tes dari 35 jumlah siswa keseluruhan yang dinyatakan
tuntas hanya 5 siswa dan yang dinyatakan belum tuntas sebanyak 30 siswa
atau sebesar 81,25 %.
Penggunaan metode
problem solving (metode pemecahan masalah) merupakan metode pembelajaran yang
dilakukan dengan memberikan suatu permasalahan, yang kemudian dicari
penyelasainnya dengan dimulai dari mencari data sampai pada kesimpulan. Seperti
apa yang ungkapkan oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain bahwa, Metode
problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar,
tetapi juga merupakan metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat
menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai
kepada menarik kesimpulan. Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam penggunaan metode
problem solving mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Adanya masalah yang
jelas untuk dipecahkan.
2. Mencari data atau
keterangan yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut.
3. Menetapkan jawaban
sementara dari masalah tersebut.
4. Menguji kebenaran
jawaban sementara tersebut.
5. Menarik kesimpulan.
Keunggulan-keunggulan metode problem solving (metode
pemecahan masalah) adalah:
a) Pemecahan masalah
(problem solving) merupakan tehnik yang cukup bagus untuk memahami isi
pelajaran.
b) Pemecahan masalah
(problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan siswa
kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c) Pemecahan masalah
(problem solving) dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa.
d) Pemecahan masalah
(problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka
untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e) Pemecahan masalah
(problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya
dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
f)
Melalui pemecahan
masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata
pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya
merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan
hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
g) Pemecahan masalah
(problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
h) Pemecahan masalah
(problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa berpikir kritis dan
mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
i)
Pemecahan masalah
(problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan
pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
j)
Pemecahan masalah
(problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus
belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
(Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, Kelemahan-kelemahan
metode problem solving (metode pemecahan masalah) adalah:
a) Menentukan suatu
masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat
sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki
siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.
b) Proses belajar
mengajar dengan menggunakan metode ini sering memerlukan waktu yang cukup
banyak dan sering terpaksa mengambil waktu pelajaran.
Mengubah kebiasaan
siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi
belajar dengan banyak berpikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok,
yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan
tersendiri bagi siswa. (Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar,
h. 93.
B. Rumusan Masalah
Berpijak pada latar belakang diatas maka permasalahan yang
timbul adalah:
1) Bagaimanakah perencanaan metode Problem Solving (Pemecahan Masalah) dalam meningkatkan hasil belajar Al-Qur’an Hadis
pada siswa Kelas X Madrasah Aliyah Al Khoiriyah Balen
2) Bagaimanakah pelaksanaan metode Problem Solving dalam meningkatkan hasil
belajar Al Qur’an Hadis pada siswa kelas X Madrasah Aliyah Al Khoiriyah Balen?,
3) Bagaimanakah penilaian metode Problem Solving dalam meningkatkan hasil
belajar Al-Qur’an Hadis pada siswa kelas X Madrasah Aliyah Al Khoiriyah Balen?.
C. Tujuan Penelitian
Sebagaimana
rumusan masalah diatas, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil
belajar Al-Qur’an Hadis dengan menggunakan metode Problem
Solving (Pemecahan Masalah) pada siswa kelas X Madrasah Aliyah Al
Khoiriyah Balen.
D. Manfaat Penelitian
Adapun
manfaat penalitian ini adalah sebagai berikut:
1)
Bagi siswa, yaitu dapat meningkatkan
pemahaman siswa khususnya pada materi isi pokok ajaran Al-Qur’an
2) Bagi guru, yaitu dapat memperbaiki
dan meningkatkan mutu pembelajaran dikelas, sehingga materi pelajaran Al-Qur’an
Hadis dapat dipahami dengan baik oleh siswa.
3) Bagi sekolah, yaitu hasil penelitian
ini akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah karena dapat memacu
tumbuhnya semangat kolaborasi antara komponen pendidik.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tujuan Pendidikan di Sekolah
Tujuan pendidikan di sekolah harus mampu mendukung
kompetensi tamatan sekolah, yaitu pengetahuan nilai, sikap, dan kemampuan untuk
mendekatkan dirinya dengan lingkungan alam, sosial, budaya dan kebutuhan
daerah. Sementara itu, kondisi pendidikan di Negara kita dewasa ini, lebih
diwarnai oleh pendekatan yaitu menitik beratkan pada model belajar koversional
seperti ceramah, sehingga kurang mampu merangsang siswa yang terlibat aktif
dalam proses belajar mengajar (Suwarna, 1991; Jarolimek, 1967).
B. Pengertian Belajar dan Mengajar
Belajar secara umum dapat diartikan
sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman, dan
bukan karena pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya atau karakteristik orang sejak
lahir. Belajar menurut Skinner (dalam Fathurrohman dan Sutikno, 2007:5)
mengartikan sebagai suatu proses
adaptasi dan penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
Hilgard & Bower dalam bukunya
Theories of Learning (dalam Fathurrohman
dan Sutikno, 2007:5) mengemukakan belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu
situasi tertentu yang disebabkan oleh
pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar
kecendrungan respon pembawaan,
kematangan, atau kedaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan,
pengaruh obat dan sebagainya).
Menurut Bruner (dalam Slameto, 2003:11)
mengatakan bahwa belajar tidak
untuk mengubah kurikulum menjadi sedemikian rupa sehhingga siswa dapat belajar
lebih banyak dan mudah. Menurut pendapat Bruner alangkah baiknya jika sekolah dapat menyediakan kesempatan bagi siswa
untuk maju dengan cepat sesuai dengan kemampuan siswa dalam mata
pelajaran tertentu. Selanjutnya teori belajar menurut Piaget (dalam Slameto,
2003:12) mengemukakan bahwa anak mempunyai struktur mental yang berbeda dengan
orang dewasa, perkembangan anak melalui tahapan-tahapan tertentu tetapi jangka
waktu untuk berlatih dari satu tahap ketahap yang lain tidak selalu sama pada
setiap anak.
Gagne (dalam Slameto, 2003:13)
memberikan dua definisi terhadap masalah belajar, yaitu:
Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam
pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku;
Belajar adalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang
diperoleh dari instruksi.
Sutikno (dalam Sumadi, 2010:5)
mengartikan belajar adalah suatu proses usaha
yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh perubahan yang baru sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. C.T. Morgan
(dalam Fathurrohmandan M. Sobry, 2007:6) merumuskan belajar sebagai suatu
perubahan yang relative dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat atau hasil
dari pengalaman yang lalu.
Gagne (1977) berpendapat bahwa belajar adalah suatu
perubahan tingkah laku (pebelajar) yang meliputi perubahan kecenderungan
manusia seperti sikap, minat, nilai dan perubahan/peningkatan kemampuan
untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja). Perubahan tingkah
laku yang dimaksud (yang meliputi, pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai)
harus bertahan lama dalam jangka tertentu.
Menurut depdiknas (2002), mengajar seyogyanya dipandang
sebagai suatu upaya atau proses yang dilakukan oleh seorang guru untuk membuat
para siswanya belajar. Pandangan ini mengandung pengertian bahwa mengajar
adalah upaya atau proses penataan dan pemanfaatan lingkungan dan sumber belajar
serta menciptakan interaksi edukatif agar siswa dapat belajar dalam
kondisi dan susasana aktif, kreatif, asyik dan menyenangkan, dengan demikian,
mengajar sesungguhnya adalah membuat siswa belajar. Mempersiapkan dirinya menjalani
kehidupan dan menjadikan manusia yang seutuhnya. Hakikatnya mengajar adalah
membuat siswa dapat belajar sepanjang hayat.
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Belajar dan Mengajar
Belajar dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal
peserta didik.Faktor internal (dari dalam diri peserta didik) meliputi antara
lain, bakat, minat, motivasi, kecerdasan (intelektual, emosional, dan
spiritual), sikap serta latar belakang sosial budaya. Sedangkan faktor
eksternal meliputi antara lain tujuan pembelajaran, materi.
D. Kondisi Pembelajaran di Sekolah
Disekolah saat ini, adalah indikasi bahwa pola pembelajaran
bersifat teacher centered. Kecenderungan pembelajaran demikian, mengakibatkan
lemahnya pengembangan potensi diri siswa dalam pembelajaran sehingga
prestasi belajar yang dicapai tidak optimal. Kesan menonjolnya verbalisme dalam
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas masih terlalu kuat.Hasil
peneltian Rofi’uddin (1990) tentang interaksi kelas di sekolah dasar
menunjukkan bahwa 95% interaksi kelas dikuasi oleh guru.Pertanyaan-pertanyaan
yang digunakan oleh guru dalam interaksi kelas berupa pertanyaan-pertanyaan
dalam kategori rendah.
Salah satu alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk
memperbaiki kondisi pembelajaran di sekolah saat ini adalah dengan menerapkan
metode/strategi pembelajaran yang inovatif, kreatif dan menyenangkan agar para
siswa dapat mengembangkan potensi dan hasil belajarnya secara optimal.
Kemampuan guru dalam performa pembelajaran merupakan
seperangkat perilaku nyata guru waktu memberikan pelajaran kepada siswanya,
mencakup: membuka pelajaran, melaksanakan pelajaran dan menutup pelajaran.
Kemampuan mengakhiri atau menutup pelajaran merupakan
kegiatan guru baik akhir jam pelajaran maupun pada setiap penggalan kegiatan
belajar mengajar. Kegiatan ini dilakukan dengan maksud agar siswa memperoleh
gambaran secara umum terdiri atas kegiatan-kegiatan meninjau kembali dan
mengevaluasi. Meninjau kembali pelajaran mencakup kegiatan merangkum inti
pelajaran dan membuat ringkasan, sedangkan mengevaluasi pejaran merupakan
kegiatan untuk mengetahui adanya pengembangan wawasan siswa setelah pelajaran
atau penggal kegiatan belajar berakhir.
BAB III
METODE/PROSEDUR PENELITIAN
A. Setting Penelitian
Penelitian
ini akan di laksanakan di Madarasah Aliyah Al Khoiriyah Balen, Tepatnya Bulan
September 2014 pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadis.
B.
Populasi dan Sampel
Yang
menjadi populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah semua siswa yang berada
di Kelas X yang berjumlah 35 orang terdiri dari 15 Laki-laki dan 20 Perempuan.
C. Faktor Yang Diteliti
Faktor
yang diteliti dalam penelitian ini adalah:
1)
Faktor guru
Aktifitas guru dalam mengelola
pembelajaran menggunakan metode pembelajaran demonstrasi, pendekatan
lingkungan, yang diitung menggunakan lembar observasi aktivitas guru.
2)
Faktor siswa
-
Aktifitas siswa dalam proses
pembelejaran menggunakan lembar obsevasi.
-
Aktifitas siswa dan hasil belajar
siswa pada materi.
-
Hasil tes setiap akhir siklus.
D. Rencana Tindakan
Pelaksanaan penelitian tindakan ini
dilaksanakan direncanakan dalam tiga siklus, akan tetapi jika dalam pelaksanaan
siklus I, tingkat keberhasilan siswa telah memenuhi SKNM maka pelaksanaan
siklus berikutnya tidak dilanjutkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar